Berikut adalah berbagai kutipan inspiratif dari buku-buku yang pernah saya baca. Semoga bermanfaat.
Cinta adalah aktivitas, bukan afek pasif; cinta adalah keadaan “berada dalam”, bukan “jatuh”. Yang paling umum, karakter aktif cinta dapat digambarkan dalam pernyataan bahwa cinta itu memberi, bukan menerima.
Love is an activity, not a passive affect; it is a “standing in,” not a “falling for”. In the most general way, the active character of love can be described by stating that love is primarily giving, not receiving.
— Erich Fromm (The Art of Loving, p.35/p.18). Rabu_2026.02.18_18.55_#1
… cinta adalah seni, seperti halnya kehidupan … . Proses belajar seni dapat dibagi menjadi dua bagian: pertama, menguasai teori; kedua, menguasai penerapan.
… love is an art, just as living is an art … . The process of learning an art can be divided conveniently into two parts: one, the mastery of the theory; the other, the mastery of the practice.
— Erich Fromm (The Art of Loving, p.12; p.4). Kamis_2026.02.19_00.09_#2
Cinta merupakan satu-satunya cara manusia memahami manusia lain sampai pada pribadinya yang paling dalam. Tidak ada orang yang bisa sepenuhnya menyadari esensi manusia lain tanpa mencintai orang tersebut.
Melalui cinta, dia bisa melihat karakter, kelebihan, dan kekurangan dari orang yang dia cintai; dan bahkan dia bisa melihat potensi orang tersebut, yang belum dan masih harus diwujudkan.
Selain itu, dengan cinta, orang yang mencintai bisa membantu orang yang dia cintai untuk mewujudkan semua potensi tersebut. Dengan membuat orang yang dia cintai menyadari apa yang bisa dan seharusnya dia lakukan, dia bisa membantunya untuk mewujudkan semua potensi tersebut.
Di dalam logoterapi, cinta tidak ditafsirkan sebagai sekadar fenomena yang terjadi sebagai efek dari sebuah fenomena primer (epiphenomenon) akibat dorongan seksual dan naluri dalam kaitannya dengan sesuatu yang lazim dikenal sebagai sublimasi. Seperti seks, cinta pun sebuah fenomena.
Secara umum, seks dianggap sebagai ungkapan cinta. Seks dibenarkan, bahkan disyaratkan segera setelah, tetapi hanya selama, dianggap sebagai sarana cinta. Karena itu, cinta tidak sekadar dipahami sebagai efek samping dari seks; sebaliknya, seks merupakan cara mengungkapkan sebuah kebersamaan penting dari sesuatu yang dinamakan cinta.
Love is the only way to grasp another human being in the innermost core of his personality. No one can become fully aware of the very essence of another human being unless he loves him.
By his love he is enabled to see the essential traits and features in the beloved person; and even more, he sees that which is potential in him, which is not yet actualized but yet ought to be actualized.
Furthermore, by his love, the loving person enables the beloved person to actualize these potentialities. By making him aware of what he can be and of what he should become, he makes these potentialities come true.
In logotherapy, love is not interpreted as a mere epiphenomenon of sexual drives and instincts in the sense of a so-called sublimation. Love is as primary a phenomenon as sex.
Normally, sex is a mode of expression for love. Sex is justifed, even sanctifed, as soon as, but only as long as, it is a vehicle of love. Thus love is not understood as a mere side-efect of sex; rather, sex is a way of expressing the experience of that ultimate togetherness which is called love.
— Viktor Emil Frankl (Man's Search for Meaning, p.181–182). Senin_2026.02.23_13.08_#3
Namun, kita tidak boleh lupa bahwa dalam neurosis, kemampuan untuk mencintai sangat rusak, dan bahwa apa yang terlihat sebagai mencintai sesungguhnya adalah kebutuhan pasien yang berlebihan akan kasih sayang dan penerimaan.
We must not forget, however, that in every neurosis the ability to love is greatly impaired, and that what appears as such is mostly the result of the patient's excessive need for affection and approval.
— Karen Horney (Analisis Diri untuk Penyembuhan Diri, p.18; Self-Analysis, p.20). Senin_2026.01.19_11.06_#1
Meski pikiran kita sudah memiliki pemahaman yang jelas akan suatu konsep, terkadang hati kita belum sepenuhnya sampai di sana dan itu sangat wajar.
— Nago Tejena, M. Psi., Psikolog (Aku yang Sudah Lama Hilang, p.16). Selasa_2025.11.25_00.44_#1
Seperti yang disebutkan oleh Gordon W. Allport, “dalam waktu yang sama, kita bisa ragu-ragu sekaligus yakin”.
— Viktor Emil Frankl (The Will to Meaning, p.110). Sabtu_2025.12.13_21.13_#2
Kebijaksanaan tak akan memiliki makna tanpa sentuhan manusia.
— Viktor Emil Frankl (The Will to Meaning, p.21). Sabtu_2025.12.13_18.55_#1
Kebijaksanaan manusia pun tak selalu bisa melampaui segalanya.
— Viktor Emil Frankl (The Will to Meaning, p.110). Sabtu_2025.12.13_21.10_#2
Kita harus berhenti bertanya tentang makna hidup, dan membiarkan kita ditanyai oleh hidup—setiap hari dan setiap jam.
Jawabannya tidak boleh hanya berbentuk ucapan dan niat, tetapi harus dituangkan dalam tindakan dan perilaku yang benar.
Hal yang paling utama dalam hidup adalah bertanggung jawab untuk menemukan jawaban-jawaban yang tepat dari semua permasalahan hidup, dan menyelesaikan tugas-tugas yang terus-menerus disodorkan oleh hidup kepada masing-masing individu.
We needed to stop asking about the meaning of life, and instead to think of ourselves as those who were being questioned by life—daily and hourly.
Our answer must consist, not in talk and meditation, but in right action and in right conduct.
Life ultimately means taking the responsibility to find the right answer to its problems and to fulfill the tasks which it constantly sets for each individual.
— Viktor Emil Frankl (Man's Search for Meaning, p.134). Senin_2025.11.24_22.13_#1
Saya ragu apakah seorang dokter bisa menjawab pertanyaan ini secara umum. Karena makna hidup bisa berbeda antara manusia yang satu dengan yang lain dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam.
— Viktor Emil Frankl (Man's Search for Meaning, p.176). Senin_2026.02.23_13.26_#2
Ketika hidup terasa terlalu berat, respons alami kita adalah melupakan semua yang telah kita pelajari, menolak bantuan, dan menutup diri, bahkan ketika konsekuensinya—seperti tidak makan—justru semakin merugikan kita.
“Berbagai kondisi yang menghasilkan perubahan ekstrem—seperti duka yang sangat mendalam atau penghinaan yang sangat pahit—sering kali menyebabkan hilangnya keseimbangan dalam aktivitas saraf dan jiwa secara mendalam serta berkepanjangan,” tulis Pavlov.
Maksudnya, setiap orang memiliki titik batas puncak. Ketika mencapai titik batas tersebut, kita berhenti merawat diri sendiri, kita kehilangan diri kita, kita kehilangan tujuan, kita mati rasa.
— dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ (Pulih dari Trauma, p.73). Minggu_2025.11.30_21.24_#1
Kamu menjadi tidak peduli terhadap dunia, entah isinya maupun apa yang ditawarkan di dalamnya. Semua terasa datar, kosong, hampa, bagai cangkang tanpa isi. Inilah yang biasa orang sebut sebagai mati rasa.
Kamu kehilangan dirimu dan juga tempatmu di dunia ini.
— Nago Tejena, M. Psi., Psikolog (Aku yang Sudah Lama Hilang, p.12). Minggu_2025.11.30_21.39_#2
Kata-kata Nietzsche, “He who has a why to live for can bear with almost any how” (Dia yang memiliki mengapa untuk hidup bisa menanggung hampir semua bagaimana), bisa dijadikan moto utama dalam menerapkan tindakan psikoterapis dan psikohigienis terhadap para tawanan.
Setiap kali kesempatan seperti itu muncul, orang harus mencari suatu alasan (mengapa)—sebuah tujuan—bagi hidupnya, untuk memperkuat dirinya agar bisa menanggung caranya (bagaimana) yang menyedihkan dalam menjalankannya. Betapa malang mereka yang tidak lagi melihat makna, sasaran, atau tujuan dalam hidupnya, sehingga mereka tidak melihat alasan untuk terus hidup. Tak lama lagi orang itu pun gagal.
Jawaban khas yang diberikan orang seperti itu jika mereka diberi semangat adalah, “Tidak ada lagi yang saya harapkan dari hidup ini.” Jawaban apa yang bisa diberikan kepada orang yang menyerah seperti itu?
Yang benar-benar dibutuhkan adalah perubahan mendasar dalam menyikapi hidup.
Kita sendiri harus belajar, dan kemudian mengajari orang yang sedang putus asa tersebut, bahwa kita tidak perlu berharap sesuatu dari hidup, sebaliknya, biarkan hidup mengharapkan sesuatu dari diri kita.
Nietzsche’s words, “He who has a why to live for can bear with almost any how,” could be the guiding motto for all psychotherapeutic and psychohygienic efforts regarding prisoners.
Whenever there was an opportunity for it, one had to give them a why—an aim—for their lives, in order to strengthen them to bear the terrible how of their existence. Woe to him who saw no more sense in his life, no aim, no purpose, and therefore no point in carrying on. He was soon lost.
The typical reply with which such a man rejected all encouraging arguments was, “I have nothing to expect from life any more.” What sort of answer can one give to that?
What was really needed was a fundamental change in our attitude toward life.
We had to learn ourselves and, furthermore, we had to teach the despairing men, that it did not really matter what we expected from life, but rather what life expected from us.
— Viktor Emil Frankl (Man's Search for Meaning, p.133). Senin_2025.11.24_19.40_#1
Trauma adalah warisan masa lalu yang tinggal di saat ini. Yang kadang kala awal mulanya saja sudah tidak kita ketahui.
Trauma adalah warisan masa lalu, yang kejadiannya sudah terlewat lama, tapi jejaknya tetap bertahan hingga saat ini, seakan enggan pergi.
— dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ (Pulih dari Trauma, p.xiii). Jumat_2026.02.27_16.49_#2
Ketika trauma berlalu, mungkin secara nyata kita sudah melewati keadaan berbahaya tersebut, tapi rasanya tidak demikian.
Perasaan teror, takut, cemas, gelisah, terperanjat, tak berdaya, kehilangan kendali, buruk, tak berharga, ditinggalkan, sendirian, kesepian, bersalah, tidak aman, kehilangan kontrol, malu, dan keseluruhan kombinasi itu dengan emosi lain bisa muncul kembali, dicetuskan oleh hal yang tampak sederhana.
Dan ketika tercetus kembali, rasanya pengalaman ini seperti baru saja dirasakan seperti 10 detik lalu, bahkan ketika pengalaman itu mungkin secara realitas sudah berlalu 10 tahun yang lalu. Seakan ada sebagian diri kita yang terjebak dalam waktu tersebut, tidak ikut ada bersama kita saat ini.
— dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ (Pulih dari Trauma, p.2). #1
Namun, keunikan sejatinya kualitas yang tak hanya berlaku pada situasi, tetapi juga hidup itu sendiri sebagai keseluruhan. Hidup ini merupakan rangkaian situasi yang unik.
Manusia adalah individu yang unik dari esensi maupun eksistensi. Pada akhirnya, setiap orang tak bisa tergantikan—berdasarkan keunikan yang menjadi esensi setiap manusia. Setiap manusia menjadi unik karena tak ada satu pun yang sama satu dengan lainnya, karena setiap eksistensi manusia adalah unik.
Cepat atau lambat, hidup kita akan selesai, seiring dengan berbagai kesempatan unik yang kita miliki untuk memenuhi makna.
Uniqueness, however, is a quality not only of a situation but even of life as a whole, since life is a string of unique situations.
Thus man is unique in terms of both essence and existence. In the final analysis, no one can be replaced—by virtue of the uniqueness of each man’s essence. And each man’s life is unique in that no one can repeat it—by virtue of the uniqueness of his existence.
Sooner or later his life will be over forever, together with all the unique opportunities to fulfill the meanings.
— Viktor Emil Frankl (The Will to Meaning, p.93/p.54–55). Selasa_2026.02.17_21.30_#1